PRAMOEDYA : Djakarta

Almanak Seni 1957 Sekarang tiba gilirannja: dia djuga mau pergi ke Djakarta. Aku takkan salahkan kau, mengapa kau ingin djadi wargakota Djakarta pula. Besok atau lusa keinginan dan tjita itu akan timbul djuga. Engkau di pedalaman terlampau banjak memandang ke Djakarta. Engkau bangunkan Djakarta dalam anganmu dengan segala kemegahan jang tak terdapat di tempatmu sendiri. Kau gandrung padanja. Kau kumpulkan tekat segumpil demi segumpil. Ah, kawan, biarlah aku tjeritakan kau tentang Djakarta kita. Tahun 1942 waktu untuk pertama kalinja aku indjak tanah ibukota ini, stasiun Gambir dikepung oleh del­man. Kini…

Read More

Konstanta dan Segala Kemungkinanya Dalam Cinta

pukul 4 subuh, Menunjukan bahwa Malam hendak akan berakhir dan akan di gantikan oleh siang, Malam yang seharusnya menjadi waktu beristrahat namun mataku tak urung jua menunjukan kelelahannya menatap Potretmu dalam Layar Monitor Laptop ukuran 14 Inci. Muncul dalam benakku bahwa takdir ini adalah Rumusan hidup, tanpa terkecuali apapun, Termasuk soal Cinta. Setiap Cintapun Punya rumusannya tersendiri, seolah hidup, Kehidupan dan Cinta harus menghasilkan sebuah kesimpulan dari rantai panjang sebuah rumusan tersebut. Dengan Semua Angka, Variabel, Konstanta.Begitu alurnya, bagaikan sebuah mata rantai yan tak urung terpisahkan. Begitulah yang di sebut…

Read More