Konstanta dan Segala Kemungkinanya Dalam Cinta

Spread the love

pukul 4 subuh, Menunjukan bahwa Malam hendak akan berakhir dan akan di gantikan oleh siang, Malam yang seharusnya menjadi waktu beristrahat namun mataku tak urung jua menunjukan kelelahannya menatap Potretmu dalam Layar Monitor Laptop ukuran 14 Inci.

Muncul dalam benakku bahwa takdir ini adalah Rumusan hidup, tanpa terkecuali apapun, Termasuk soal Cinta. Setiap Cintapun Punya rumusannya tersendiri, seolah hidup, Kehidupan dan Cinta harus menghasilkan sebuah kesimpulan dari rantai panjang sebuah rumusan tersebut. Dengan Semua Angka, Variabel, Konstanta.Begitu alurnya, bagaikan sebuah mata rantai yan tak urung terpisahkan. Begitulah yang di sebut dengan cinta. Cinta tak ubahnya mata rantai rumusan takdir hidup dan kehidupan yang di ciptakan Tuhan untuk Manusia, Bagaikan sebuah Variabel yang tak dapat di Pisahkan dari Pergulatan Konsonanitas, tak ubahnya jalan lurus yang monoton dan bagaikan penjara yang hampa bagaikan sandiwara seorang terpidana yang menunjukan mimik bahagia namun sesungguhnya tak jua bahagia.

Kita di dalamnya merupakan Konstanta, berwujud dalam bentuk Perhitungan aritmatika dengan berbagai kemungkinan peluang yang amat banyak besarannya. Peluang itu tentang siapa yang harus di cintai dan yang tak harus kita cintai.

Rasanya angka tak akan cukup untuk menjawabnya, apalagi sampai menafsirkannya sampai ke hal-hal yang lebih teknis atau bahkan mengukur kadar rasa rindu seorang manusia ketika ia sedang kasmaran. Seyogyanya , segudang kalimatpun mungkin tak akan mampu memberi penjelasan yang detail serta alasan ilmiah tentang kenapa kita jatuh hati pada seseorang, Layaknya tulisan Ilmiah yang di tulis oleh seorang peneliti dan tak mampu di pahami oleh petani miskin di Pedesaan yang tak jua pernah mencicipi rasa dari sebuah pendidikan. Karna di dalamnya terdapat bahasa ilmiah, perhitungan dan kalimat atau bahkan angka-angka rumit dan di dalamnya terdapat jawaban yang rumit pula.

Bisa jadi tidak semua orang sepakat dengan saya untuk hal ini, namun bagi yang sepakat dengan saya, harus ingat satu hal. Bahwa itu bukanlah yang kita sebut dengan cinta, sekali lagi itu bukanlah cinta, itu bukanlah jawaban soal Cinta. Itu hanya sekedar pembenaran Rasio atas sebuah rasa, Akal pada hati. Semua itu akan menimbulkan pertanyaan tentang siapa, apa, bagaimana, kapan, dimana dan berapa kali saya rasakan Cinta.? Siapa yang sebenarnya saya cintai.? Bagaimana cinta ini baiknya.? Kapan ini mulai di sebut cinta.? Seberapa besarkah rasa cinta ini.? Dan dimanakah rasa ini seharusnya bisa mencintai.? Seperti pertanyaan standard penulisan berita harian serta bagaikan sebuah teka teki silang tentang cinta, yang selalu ku temui dalam bingkai parasmu di layar laptop 14 inci ini.

Cinta seakan mengajarkan dan mengajakku menafsirkannya dalam bayang-bayang subjektif (ide), Seakan memvisualisasikan yang riil serta Imajiner menjadi bahasa Verbal yang tak berbentuk atau abstrak. Sebuah pengandaian untuk membuat diriku yang kian terlelap terhadap komplesitas ayat-ayat tentang cinta, bagaikan sebuah Teorema penghantar Tidur yang selalu berujung pada hanya sekedar Buaian Tidur seperti nyanyian Ninabobo yang di nyanyika pada Anak-Anak sebelum Tidur.

Kadang Terbesit tentang pikiran-pikiran Pesimis, haruskah dengan begitu mudah menyerahkan semuanya pada Perhitungan Takdir.? Menyandarkan Mimpi dan keyakinan ini pada semua keragu-raguan dan ketidak Pede’an serta sebuah ketakutan yang tak beralasan ini ataukah menepisnya dan membuang semua keragu-raguan serta meyakinkan diri tentang Konstanta itu adalah Aku. Sebuah Konstanta yang mampu merubah Perhitungan atau kalkulasi takdir.? Pada posisi ini semua orang atau mungkin setiap dari kita akan bersuara lantang : “ Atas nama Kehidupan, akulah Konstanta itu “. Seperti konstanta dalam kesebandingan yang akan merubah hasil akhir dari tiap-tiap jawaban, termasuk jawaban atas takdir cintaku padamu.

Tunggu ya,
Bersambung Ke Part 2 ............. 

Related posts

Leave a Comment